Madiun mencekam

PENDEKARHari ini adalah malam tahun baru Islam, Hijrah. Juga malam tahun baru Jawa, memasuki bulan yang pertama, Suro. Seharusnya ini menjadi momentum yang baik untuk instropeksi diri. Namun tidak demikian yang terjadi di kotaku.

Situasi mencekam terjadi di Madiun hari ini. Hal ini diakibatkan ulah tahunan gerombolan massa pendekar yang mengacak-acak ketentraman kotaku yang biasanya aman dan damai ini. Dimulai pukul 4 sore tadi, massa berpakaian hitam dan bersabuk kain kafan (tanda pendekar) dari S.H Terate sudah mulai berkonvoi. Tentunya dengan arogan menguasai jalan, seolah-olah jalan mereka sendiri. Saat itu aku baru pulang kantor.

Tadi sekitar pukul 19.30 WIB, di jalan semeru bagian timur, sebelah selatan hotel Kartika Abadi, terjadi pengeroyokan yang dilakukan oleh “pendekar” dari perguruan silat S.H Terate. Lalu gimana?

Menyembunyikan amalan soleh

UangTadi malem di suatu tempat nongkrong di kota Madiun. Terjadi percakapan diantara mereka yang baru bertemu.
Teman 1: “Hoi, kok baru keliatan sekarang? Kemana aja kamu, temen-temen pada ngasi bantuan ke korban banjir, kamu kok nggak keliatan?”
Teman 2: “Ya nih, kamu nggak asyik, giliran susah-susah gini, kamu ngilang.”
Teman yang dimaksud cuma diam dan tersenyum lalu bilang: “Ada kok, aku disini aja,” trus senyum lagi. Saat dia pergi, sebagian teman-teman terus mempergunjingkannya. Terus…terus…?

Ibu itu…

Ibu yang penuh kasih sayang...

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan : “Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah”?

Dan Tuhan menjawab, “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu.”

“Tapi disini, di dalam syurga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia.” Apa jawaban Tuhan?

Kok Madiun rasanya semakin panas ya?

PR dari Blog Action Day

Semenjak puasa kemarin, hari rasanya panas sekali. Aku pikir sih karena efek halusinasi orang puasa (emang ada ya?:D ). Tapi, setelah lebaran and gak puasa lagi, kok masih tetep aja panas. Wah, bukan aku nih yang gak beres tapi lingkungan aku. Aku nyoba tanya-tanya ke sodara, tetangga dan temen-temen untuk memastikan bahwa sindrom halusinasi puasa nggak menjangkiti aku. Ternyata mereka semua sama dengan aku, KEPANASAN. Wuih…untuk sementara aku lega. At least, bukan otakku yang gak beres. Tapi tetep aja, PANAAAASSSS minta ampun. Panas ini juga aku rasakan di Magetan, tempat tinggal nenekku. Cuman panasnya gak sepanas di Madiun. Secara Magetan dataran tinggi gitu loh. About 800 meters dpl (dari permukaan laut).

Lalu kenapa sih ini terjadi? Global warming? (wuih…bahasane rek…!!!)

Kalo aku pikir sih ngga’ begitu juga. Memang saat ini global warming sedang terjadi. Namun rasanya ada yang lebih besar efeknya mempengaruhi suhu di kota Madiun tercinta ini. Apa itu? Read the rest…

Tukang kebun yang amanah

Cerita ini udah banyak versi sih, cuman tetep asyik aja untuk diceritain. Ini nih:


Ada seorang tukang kebun. Bekerja sangat rajin sekali. Hasil pekerjaannya sangatlah luar biasa. Kebun-kebun yang ia rawat menghasilkan buah-buahan yang luar biasa banyaknya. Hal yang rasanya sulit dicapai tanpa ketekunan yang cukup.
Read the rest…