PR dari Blog Action Day

Semenjak puasa kemarin, hari rasanya panas sekali. Aku pikir sih karena efek halusinasi orang puasa (emang ada ya?:D ). Tapi, setelah lebaran and gak puasa lagi, kok masih tetep aja panas. Wah, bukan aku nih yang gak beres tapi lingkungan aku. Aku nyoba tanya-tanya ke sodara, tetangga dan temen-temen untuk memastikan bahwa sindrom halusinasi puasa nggak menjangkiti aku. Ternyata mereka semua sama dengan aku, KEPANASAN. Wuih…untuk sementara aku lega. At least, bukan otakku yang gak beres. Tapi tetep aja, PANAAAASSSS minta ampun. Panas ini juga aku rasakan di Magetan, tempat tinggal nenekku. Cuman panasnya gak sepanas di Madiun. Secara Magetan dataran tinggi gitu loh. About 800 meters dpl (dari permukaan laut).

Lalu kenapa sih ini terjadi? Global warming? (wuih…bahasane rek…!!!)

Kalo aku pikir sih ngga’ begitu juga. Memang saat ini global warming sedang terjadi. Namun rasanya ada yang lebih besar efeknya mempengaruhi suhu di kota Madiun tercinta ini. Apa itu?
Selama 6 tahun ini, jumlah kendaraan bermotor, terutama sepeda motor bertambah dengan drastis. Gak ada data resmi dari manapun tentang hal ini. Tapi bisa kita lihat dengan mata telanjang (emangnya barang gaib?) bahwa sekarang nyaris semua orang punya motor (including me…:p ). Lah wong tukang sayur aja sekarang pake motor. Ini adalah efek dari terbukanya pasar otomotif dan adanya kredit lunak dari para penjamin finansial (baca: tukang kredit) macam Adira, BAF, FIF dan masih banyak lagi. Gimana nggak punya motor, lah modal KTP aja motor dah dianter ke rumah. Bahkan, yang beli lunas malah di-ignore dengan banyak alasan, daripada yang kredit. Ini terjadi sama temen aku yang pengen beli cash, tapi malah ditawarin kredit, dengan alasan semua motor itu udah di-booking ama ****, sebuah perusahaan penjamin finansial. Mungkin gedean kredit kali untungnya. :-?

Kembali ke laptop…eh…topik tulisan ini. :D

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang signifikan tersebut, tentunya jumlah gas buang macam N2O (Nitrogin Oxide), CO (Carbon Monoxide) dan CO2 (Carbon Dioxide) meningkat. Logikanya sih kalo kamu memelihara sapi satu ekor, kotorannya 20 Kg, melihara 5 sapi jadi 100 Kg kan sehari. Gak mungkin lah tetep 20 Kg. Emang sapi-sapi yang lain pada nggak BAB? Kok jadi sapi sih….

Hanya logika aja. Gak mesti kalo tiap kendaraan sama gas buangnya. Belum lagi diperparah dengan sikap ignorant dari bangsaku. Apa yang keluar dari knalpot kendaraannya, nggak pernah dipeduliin. Prinsip yang berlalu biarlah berlalu kali. Cuman harusnya liat-liat dong, apa ada yang terganggu dengan asap ngebul (baca: tebal) yang keluar dari knalpotnya? Trus cepetan bawa ke bengkel. Lalu apa korelasinya dengan lingkungan? Ya ada. Pernah diajarin kimia waktu SMA? Pembakaran yang nggak sempurna, menghasilkan gas CO, gas yang ribuan kali lebih mematikan daripada CO2 kalo dihirup dalam waktu yang lama. Oleh karena itu kenapa banyak yang sering pusing kalo mencium hasil pembakaran mesin diesel yang bobrok. I guess, pembakarannya gak sempurna. OOT sih, CO tidak mengakibatkan panas, tapi kan berefek ke lingkungan juga.

Lalu efek langsung terhadap memanasnya Madiun apa?

Kalo yang aku tau ni, atom CO2 lebih berat dari O2 (Oxside/Oksigen). Refer ke tabel periodik unsur atom, berat C = 12, O = 16. Jadi CO2 = C + O + O = 12+16+16 = 44, sedangkan O2 = 16+16 = 32. Oleh karena itu, CO2 lebih lama ada di bawah daripada O2. Kok gitu? ya iyalah, kan dia lebih berat. Benda yang lebih berat mendapat efek tarikan yang lebih besar dari gravitasi. Nah, karena sifat dari CO2 ini adalah selimut panas, maka energi panas matahari (baik yang direct maupun indirect dari aspal jalan) dan panas yang dihasilkan dari kendaraan bermotor tidak bisa terlepas naik ke atas. Mulek (baca: berputar-putar) aja di sekitar kita. Makanya jadi panas banget.

Trus….

Kontur geografis Madiun memang dikelilingi oleh hutan. Baik yang di gunung maupun dataran rendahnya. Beragam pohon ada. Mulai Jati, pinus dan cemara. Semua ada. Mungkin itulah yang menyebabkan Madiun termasuk “dataran rendah yang dingin” versiku.

Tapi itu dulu. Akhir-akhir ini aku sering berkelana, melewati hutan dan gunung di sekitaran Madiun (cieeee…!!!). Aku lihat, banyak banget yang hilang dibanding 6 tahun yang lalu. Misalnya ni ya, hutan di daerah sekitaran gunung wilis, sekarang udah banyak yang gundul. Padahal 6 tahun lalu masih lebat banget. Belum lagi di daerah gunung lawu, yang banyak ditebangi oleh pembalak liar lokal. Gak percaya? Liat aja sendiri.

Hal ini ada korelasinya dengan meningkatnya panas Madiun. Hanya tumbuhan yang mampu memproses CO2 menjadi O2, dengan proses fotosintes-nya. Nah, kalo hutan udah pada ditebangin, sapa yang proses CO2 coba? Apalagi tumbuhan di perkotaan sudah minim banget. Akhirnya jumlah CO2 semakin bertambah, bertambah dan bertambah tiap hari. So…panas deh….!!!

By the way anyway busway, ini bukan hasil penelitian, bisa salah bisa benar. Cuman hasil logika doank, dari ilmu yang terbatas. Kalopun meleset pastinya nggak jauh-jauh amat. 11-12 lah. Hehehehhe.. :D

Lalu kalo emang bener, apa yang bisa kita lakuin?

Gak usah deh muluk-muluk bikin campaign “Save Our Madiun” segala. Malah nggak efektif. Malah dikiranya kita cuman mo cari dana untuk kepentingan pribadi. Mulailah segala sesuatu dari diri sendiri.

  1. Tidak menggunakan kendaraan bermotor apabila tidak penting. Kalo nggak jauh-jauh amat, mending jalan kaki atau naik sepeda pancal. Itung-itung olahraga dan juga penghematan. Bensin mahal bro..!!!
  2. Sekali-sekali naik angkutan umum. Itung-itung bagi rejeki sama pak sopir. Kalo yang ini sih aku mesti belajar juga. Maklum, 22 tahun hidup di Madiun, gak hafal sama jalur angkota. :D
  3. Menanam pohon dan tanaman di sekitar rumah. Kalo ada tempat yang luang di sekitar rumah, bisa kita tanami. lebih indah jadinya. Sekaligus bisa jadi penghilang stress. Apalagi kalo tanaman buah macam mangga atau jambu, kan bisa diambil buahnya juga. Sambil menyelam, minum air deh… (apa nggak tenggelam ya?)
  4. Bilang ke anggota keluarga dan teman kita untuk melakukan hal yang sama dengan kita.

Nah, mudah kan. 1 orang dengan downline 10 orang yang sadar lingkungan per hari, hitung sendiri deh berapa orang yang sadar lingkungan dengan sistem piramida MLM. Hehehhehehe…lebih efektif kan bro?

Oke, cukup sekian. Capek nulisnya. Lagipula mo siap-siap belajar untuk sadar lingkungan ni. Ayo “Save Our Madiun” !!! Loh kok aku kampanye?