Tadi malem di suatu tempat nongkrong di kota Madiun. Terjadi percakapan diantara mereka yang baru bertemu.
Teman 1: “Hoi, kok baru keliatan sekarang? Kemana aja kamu, temen-temen pada ngasi bantuan ke korban banjir, kamu kok nggak keliatan?”
Teman 2: “Ya nih, kamu nggak asyik, giliran susah-susah gini, kamu ngilang.”
Teman yang dimaksud cuma diam dan tersenyum lalu bilang: “Ada kok, aku disini aja,” trus senyum lagi. Saat dia pergi, sebagian teman-teman terus mempergunjingkannya.
Padahal sehari sebelumnya, dia mengajakku dan beberapa kawan untuk membantunya mendistribusikan bantuan kepada korban banjir. Bantuan itu dari uang pribadinya. Ya, kantong pribadinya, bukan dari sumbangan orang lain. Bahkan dia berpesan kepada teman-teman yang membantunya supaya tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Cukup Allahimg dan kami saja yang tahu. Bahkan ketika ditanya oleh tim dari satkorlak, dia bilang kalo dia hanya menyalurkan bantuan dari orang tak dikenal. Aku yang menyaksikan hal tersebut menjadi tersentuh keikhlasannya dalam bersedekah.
Dia bilang, “bungkus dan sekap tangan kirimu saat kamu beramal harta dengan tangan kananmu.”
Wow, filosofi yang bagus. Sangat klop dan sesuai dengan ajaran Rasul SAW. Tangan kiri aja nggak boleh tau, apalagi orang lain. Dengan begitu, keikhlasan akan terjaga.
Kembali ke tempat nongkrong tadi. Karena sudah tidak tahan dengan pergunjingan mereka, aku dan temanku yang lain menceritakan pada mereka tentang amal yang dilakukan teman itu. Maksudku adalah supaya mereka dapat mengambil contoh dari teman yang dipergunjingkan tersebut.
Namun apa jawaban mereka? Banyak yang skeptis dan menjawab seenaknya. Seolah-olah diri mereka lebih baik daripada teman yang dipergunjingkan dan mengatakan bahwa kami berdusta karena tidak bisa membawa bukti berupa foto-foto. Aku mengatakan bahwa setiap tim yang mengirim bantuan melakukan foto-foto itu bukannya nggak ikhlas, namun sebagai pertanggungjawaban bahwa bantuan sudah diberikan, mengingat bahwa bantuan itu bukan dari pribadi mereka. Sedangkan kami waktu itu menyalurkan bantuan bersama dengan pemberi bantuan itu sendiri. Lalu buat apa ada foto-foto? Tapi mereka tetap menolak pembelaan kami dan sebutan pendusta tetap dilayangkan pada kami.
Sebelum kami meninggalkan mereka, temanku berkata: “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang merugi, diberi pengetahuan tapi kalian menolaknya.”
Aku jadi teringat akan ayat ini:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan).” Q.S. Al-Hujurat: 11
Aku jadi benar-benar mengerti kenapa ada ayat ini dalam Al-Quran. Ternyata, aku baru saja menemui hal yang dikatakan dalam Al-Quran tersebut. Sungguh Maha Besar Allahimg dengan segala firmanNya.
3 Comments until now
waah org magetan toh.. kampung saya juga di magetan di jalan janoko tepatnya..hehehe.. gmn kabar madiun mas?? lebaran kmrn keluarga saya ga pulang euy..biasanya sih solat ID di alun2
n1ghtfly3r memiliki posting terakhir di blognya: Over Night Essay
Thiinx: Jingso mas…
Iya mas, memang gak perlu di gembar gemborkan supaya bisa ikhlas
Met kenal ya mas
alam memiliki posting terakhir di blognya: Belajar Bahasa Inggris (lagi) : blogger bayaran
Add your Comment!