Hari ini aku liat tayangan dari National Geographic Channel. Tayangan ini diberi judul “Raptor Force“. Dokumenter selama 90 menit ini menceritakan tentang burung pemangsa terutama Elang dan korelasinya dengan teknologi pesawat tempur. Seluruh bagian dari “teknologi bawaan” burung-burung pemangsa tersebut, serta bagaimana manusia menirunya untuk diaplikasikan dalam teknologi penerbangan militer kita. Speed, stealth, silent and suddenly. Mereka menyebutnya seperti itu.

Mengenai 4 S diatas, mereka mengambil contoh Elang Peregrine (Peregrine Falcon).

  1. Speed.
    Peregrine mampu terbang horizontal dengan kecepatan mencapai 80 km/jam. Sedangkan, ketika menukik menghujam ke tanah untuk berburu, kecepatannya mencapai 350 km/jam. Luar biasa! Dengan kecepatan sekian, ia masih bisa mengunci pandangan pada mangsanya berkat lapisan khusus yang ada di bola matanya, melindungi dari hantaman benda-benda kecil seperti pasir. Dalam kecepatan 350 km/jam, sebutir pasir bisa setajam peluru. Disamping itu, air mata Peregrine juga lebih kental. Bayangkan jika secair manusia, tentu akan menguap begitu saja di kecepatan 80 km/jam.
  2. Stealth.
    Kemampuan tak terdeteksi elang sungguh luar biasa. Biasanya mereka berburu dari atas ketinggian 900 meter. Di ketinggian ini, mereka masih bisa melihat dengan jelas tanah seisinya, sedangkan mangsanya tidak. Ini berkat semacam lensa yang ada di dalam bola matanya. Membuat matanya seolah-olah seperti memiliki teropong. Peregrine menyerang tepat dari atas mangsanya. Dimana dari sudut ini, mangsanya tak bisa meliihatnya. Ketika ia terlihat di sekitar 50-25 meter, itu sudah terlambat bagi mangsanya. Dengan kecepatan 350 km/jam dan ketinggian 25 meter, hitung sendiri berapa milidetik kesempatan mangsa untuk kabur?
  3. Silent.
    Berkat design yang luar biasa pada sayapnya dan bulunya, Peregrine mampu terbang dengan kecepatan tinggi tapi menghasilkan noise yang sangat minim. Sebagai pembanding, dalam keadaan sunyi, kepakan sayap gagak bisa terdengar sampai 30 meter, padahal bentang sayap gagak hanya 1,2 meter maksimal. Sedangkan dengan bentang sayap 2,5 meter, Peregrine hanya bisa didengar dari jarak 10 meter.
  4. Sudden.
    Tiba-tiba saja Peregrine sudah menangkap mangsanya dan berada di tanah. Dengan kombinasi dari 3 hal diatas , ditambah dengan kemampuannya memperlambat kecepatan secara tiba-tiba, membua Peregrine elang yang luar biasa. . Jika detik terakhir Peregrine tidak mampu melakukan perlambatan dengan benar, maka ia bisa menghujam tanah dengan keras dan mati. Amazing! Peregrine bisa melakukan perlambatan 300km/detik tanpa cidera. Kalo dikalkulasi, gaya yang dia terima sekitar 25G, setara dengan pilot space shuttle (pesawat ulang-alik). Betul-betul luar biasa.

Mmm…ada satu hal lagi ya menarik dari tayangan ini adalah tidak pernah terlontar masalah “evolusi”. Bahkan secara explisit mereka menyebut bahwa elang diciptakan.

“All parts of Falcon’s body has been created perfectly for high speed flying”.

Apakah ini tandanya National Geographic telah melupakan teori evolusi? Who knows?

Namun dari tayangan ini aku jadi semakin bersyukur. Semakin bertambah keimanan. Tiadalah Allahimg menciptakan segala sesuatunya itu sia-sia. Salah satunya adalah untuk mengajari manusia serta menunjukkan kebesaran-Nya. Maha besar Allahimg dengan segala ciptaan-Nya.