Ingatkan engkau kepada…
Embun pagi bersahaja…
Yang menemanimu…
Sebelum cahaya…

Ingatkan engkau kepada…
Angin yang berhembus mesra…
Yang kan membelaimu…
Cinta..

Lirik lagu dari Letto yang berjudul ’sebelum cahaya’ ini mengingatkan aku pada seorang tetangga yang sekarang entah ada dimana. Tetangga aku ini sebut saja namanya Arvie nama sebenarnya. Dulu, dia adalah teman maen kakakku. Aku dan dia selisih 6 tahun. Aku masih inget, waktu itu aku kelas 5 SD dan dia kelas 2 SMA, dia banyak cerita tentang sekolahnya, tentang teman-temannya, dll. Waktu aku tanya kenapa dia cerita semua ke aku, padahal kan aku cuma anak kecil, dia mengatakan padaku bahwa aku satu-satunya orang yang mau mendengar dia. Mungkin inilah cikal bakal diriku yang sekarang sebagai tong sampah curhatan semua orang. Dia juga memberi aku nasehat yang sampai saat ini aku ingat. ‘Jangan pernah melihat siapa yang berbicara, tapi dengarkan apa yang dikatakan kepadamu. Kata-kata bijak bisa saja keluar dari orang yang dianggap hina. Allahimg punya banyak cara untuk membimbing hambanya.’

Lalu apa hubungannya dengan lagu dari Letto?

Menurut aku dan kakakku juga, lagu dari Letto tersebut persis seperti yang mas Arvie alami. Dulu, mas Arvie pernah bercerita padaku tentang seorang cewek yang disukainya. Dulunya cewek itu adalah ‘angsa buruk rupa’ di sekolah. Mas Arvie dan kakakku lah mendorong dia untuk menjadi ‘angsa emas’. Dan usaha itu berhasil. Hari berlalu, bulan berjalan, tahun berganti, cewek itupun melupakan mas Arvie dan kakakku. ‘Kacang lupa akan kulitnya’, itu gambaran yang pas untuk cewek itu. Puncaknya adalah ketika mas Arvie nembak cewek itu dengan surat (kala itu belum musim tembak di tempat…he..he..he), cewek itu nggak pernah membalasnya. Bahkan ia tak pernah lagi menyapa mas Arvie jiika bertemu.

Tentunya mas Arvie kecewa. Sangat kecewa sekali. Aku ingat dari sorot matanya yang berkaca-kaca dan suaranya yang tertahan (dulu aku nggak tahu, tapi sekarang baru tahu bahwa itu hanya terjadi jika laki-laki menyimpan kepedihan yang mendalam). Bahkan ia menyesal membantunya. Jika waktu bisa diputar, dia ingin cewek itu seperti adanya dulu sebelum menjadi ‘angsa emas’. Mas Arvie berpesan kepadaku, ‘bagaimanapun berubahnya hidup kamu, jangan pernah lupakan jasa-jasa orang-orang terdekatmu dahulu. Jika engkau lupa, itu akan menyakiti mereka. Dan bukannya menyakiti orang itu dosa?’

Begitulah mas Arvie, selalu merunut suatu hal hingga ke puncaknya, menjelaskan dengan sederhana. Membuat aku yang kala itu masih ingusan, bisa mengerti apa yang ingin ia sampaikan. Bahkan membekas sampai aku udah berumur dan ngga’ ingusan lagi.

Intinya, jangan pernah melupakan kebaikan dan jasa orang lain, sekecil apapun itu.

Sekarang mas Arvie entah ada di mana. Terakhir aku bertemu dengannya adalah saat kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, 7 tahun yang lalu. Setelah itu, rumahnya dijual dan ia ikut saudaranya di Makassar. Tapi kakakku bilang, 5 tahun lalu dia masih bertemu dengan mas Arvie di Semarang. Kabarnya ia menjadi pengusaha disana. Hmm…jika memang begitu, syukur deh. Selamat buat mas Arvie yang selalu optimis dan yakin bahwa Allahimg itu adil. Kalo mas Arvie baca ini, hubungi aku ya. Via email, nanti aku kasi no telepon aku. Aku kangen mas!

Lalu bagaimana dengan ‘cewek itu’? Menurut kabar yang aku dapat dari kakakku, dia menikah dan memiliki 2 orang anak. Namun 3 tahun belakangan, suaminya kabur entah kemana. Jadi, dia hidup dalam keprihatinan, menghidupi kedua anaknya yang mulai sekolah. Hilang sudah kecantikannya yang dulu dipuja banyak lelaki.

Sebenarnya, kisah-kisah seperti ini banyak adanya. Kisah klasik, kata teman-temanku. Tapi bagiku, cerita-cerita seperti ini bisa menjadi cermin untuk kita supaya berbuat baik kepada siapapun.

Almarhum kakekku yang bukan kyai tapi taat beribadah pernah bilang kepadaku:

‘Dadi menungso iku kudu tansah agawe budi sing apik. Urip iku mung pisan. Umpomo awake dewe mati lan mayare akhirat iku ora ono, sak ora-orane awake dewe lak wis bathi duwe jeneng apik nang ndonya. Nanging yen mayare akhirat iki enek temenan, lak yo awake dewe bathi donya lan akhirat to? Lan ugo ngono kosok baline. Iki goblok-goblokane mikir ngono loh le.’

Yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi:

Jadi manusia itu harus selalu berbuat yang baik (kebaikan). Hidup ini cuma sekali. Misalnya kita mati dan akhirat itu ternyata tidak ada, setidak-tidaknya kita sudah untung punya nama yang baik di dunia. Tapi kalo ternyata akhirat itu ada, kita jadi untung dunia dan akhirat kan? Begitu juga sebaliknya. Ini sebodoh-bodohnya oran berpikir lho, nak.’

Jadi bagaimana? Anda setuju dengan mas Arvie atau kakekku? Kalo aku dua-duanya.