Suatu ketika 5 tahun yang lalu, aku masih SMA kelas 2.

Ada anak pak RW yang cewek waktu itu kelas 3 SMP, beranjak dewasa lah istilahnya. Lagi ranum-ranumnya. Banyak yang naksir ma dia. Mulai dari temen sekampung, sampai temen-temenku yang maen ke rumahku. Padahal dia tuh nggak begitu cantik, juga nggak jelek. Biasa aja deh pokoknya. Standar aja.

Beruntung ni, aku dekat sekali sama dia. Tapi aku belum ada perasaan apa-apa sama dia. Kedekatan kami sampai menimbulkan gosip di kalangan ibu-ibu arisan (biasalah ibu-ibu, suka ngurusin anak orang lain). Padahal waktu itu kami nggak pacaran. Karena dia, aku jadi sering ikut kegiatan di kampung. Ikut karang taruna juga. Weh…hanya karena seorang cewek, aku rela menyisihkan waktuku nge-Net sama nge-Game komputer. Setelah aku dekat sekali dengannya, baru aku tahu kalo dia itu begitu dewasa, nggak manja dan mandiri. Itulah ternyata dilihat sama cowok-cowok disekitarnya. Aku termasuk telat gitu deh liatnya…

6 bulan aku jalan sama dia tanpa status yang jelas. Kadang maen ke Game Zone berdua, makan dan ibadah pun berdua. Aku cuma pengen menyakinkan hatiku yang bertanya-tanya apakah dia punya “feeling” sama aku apa nggak.

Suatu ketika, sore hari menjelang senja. Aku ma dia lagi duduk-duduk di alun-alun, tempat favorit pemuda di kampungku (coz emang adanya cuman itu). Aku nembak dia. Lalu dia terdiam, terdiam dan terdiam saja hingga magrib tiba. Aku pikir dia emang sengaja bikin aku bingung. Nggak mungkin lah selama ini dia ga tau aku deketin dia. :)

-oOo-

Lalu dia menghilang. Berangkat sekolah selalu lebih pagi dari aku. Nggak pernah lagi maen-maen ke rumahku (maen-maen sama ponakanku). Aku jadi cemas. Apa aku telah berbuat kesalahan? Apa dia nggak berkenan aku nembak dia? Apa dia nggak mau jadi pacarku? Kalo nggak mau ya udah, jangan gini caranya…!!! X-(

-oOo-

Tepat seminggu setelah kejadian aku nembak dia, pulang sekolah dia menghentikan aku di depan gang rumahku. Dia menyerahkan selembar surat. Dia bilang, “aku nggak bisa ngomong, karena aku nggak bisa nahan perasaanku”. Lalu dia pergi, tanpa sepatah kata pun.

Waktu itu aku sudah berbunga-bunga. Wah, kayaknya dia terima aku. Aneh kan? Rating GR ku sangat tinggi waktu itu. Dengan tergesa-gesa aku pulang ke rumah. Sengaja nggak aku langsung buka, coz surat spesial harus dibaca dengan suasana spesial. Setelah merampungkan “kewajiban pulang sekolah”, aku mulai buka amplopnya. Rasanya gimanaaaaa… gitu. Nggak bisa dijelaskan deh dag-dig-dug nya hatiku.

Mas Iwan,
Maaf mas sebelumnya kalo aku pake surat-suratan segala. Tapi aku terpaksa karena aku nggak bisa ngomong langsung ke kamu, Mas. Sejujurnya, aku menyimpan perasaan suka sama mas sejak ikutan lomba tujuh belasan tahun yang lalu. Waktu itu kan mas jadi panitia. Inget kan? Pasti inget deh. Terima kasih ya mas, selama ini udah jadi temen aku yang paling baik.

Waktu mas nembak aku seminggu yang lalu, aku kaget mas. Sungguh-sungguh kaget sekali. Aku pikir selama ini mas cuma menganggap aku sebagai adik. Karena sekian lama kita dekat, mas belum juga menyatakan cinta kepadaku. Sebenarnya kemarin itu adalah saat-saat yang aku tunggu.

Sampai disini, hatiku begitu berbunga-bunga. Aku dekap suratnya…lekat sekali dalam dada. (Ih…norak ya???)

Tapi mas….
Aku nggak bisa terima cintamu, mas. Bukan karena aku tak mencintaimu, tapi aku terlanjur menerima cinta cowok lain. Dia adalah D*******, temen cowok yang mas kenalin ke aku waktu kita maen di Game Zone. Aku bener-bener minta maaf mas. Seminggu sebelum mas nembak aku, dia nembak duluan. Karena aku pikir mas nggak menginginkan aku sebagai pacar, aku terima dia. Sekali lagi aku minta maaf mas. Mas mau kan maafin aku dan kita tetep berteman seperti dulu lagi? Seminggu ini aku nggak menghilang karena aku nggak sanggup nahan rasa bersalahku ini.

Sekali lagi mas, maaf ya. Aku tau ini pasti sakit buat mas.

Cukup sekian mas. Cintamu akan selalu kusimpan dalam hatiku.

Cheers & Smile

V*****

Rasanya runtuh langit-langit kamarku menimpaku. Sakit sekali. Aku ditolak karena ulahku sendiri. Wow…what a fool am i. Aku merasa jadi orang paling bodoh sedunia. Hari itu rasanya dunia hitam putih dan asam rasanya bagiku. Nggak terasa, mataku berlinang, walau cuma di dalam, nggak sampai keluar. Bukan menangisi “dia” yang hilang, tapi menangisi kebodohanku.

-oOo-

Setelah 5 tahun ini. Dia menjadi temanku bahkan sahabatku. Dia juga yang banyak ngasi saran gimana aku harus menghadapi cewek. Tapi anehnya, tak terbersit di pikiranku untuk nembak dia lagi.

Tapi, hari ini. Ya…hari ini. Aku inget. Tanggal ini saat aku nembak dia 5 tahun lalu. Dia tadi kirim cake ke rumah, dengan sebuah kartu ucapan selamat Idul Fitri. Di bawahnya tertulis, “Mas, masih inget kan kalo aku masih menyimpan cintamu dalam hatiku?”

Glodak…bruak…byar…gubrak… rasanya duniaku runtuh lagi.

Ya Allahimg …. Kenapa ini harus terjadi sekarang??? Kenapa nggak kemarin atau besok saja? Saat aku nggak punya pacar. Kalo gini, gimana aku harus bersikap adil?

Ya Allahimg … aku mohon petunjuk-Mu…