Malam ini aku sengaja tarawih di masjid sebelah utara komplek rumah aku. Aku tau kalo si “dia” akan tarawih di situ juga. Memang, selain udah lama nggak tarawih di situ, aku emang punya tujuan untuk menemui “cewek yang menyimpan cintaku dalam hatinya“. Tapi, tarawihnya tetep konsen kok. Agak kaget juga, tumben mo lebaran gini yang tarawih kok masih lumayan banyak. Tahun yang lalu, sepi banget. ![]()
Habis tarawih sengaja aku jalan lambat banget. Siput aja mungkin kalah lambat dari aku. Yang aku inginkan adalah “dia” menegur aku. “Mas, kok sendiri?”, tiba-tiba ada suara tanpa rupa (ya jelas, lah wong dia ada dibelakangku…
). Hatiku langsung gimana gitu denger suaranya.
“Ehm, iya nih, anak-anak udah pada duluan”, jawabku singkat.
“Belakangan apa sengaja di belakang sih mas. Udahlah, aku tau kok. Aku kenal mas kan udah bertahun-tahun. Mas nungguin aku kan?”, tebakannya tidak meleset. Ditembak begitu, aku nggak bisa ngomong apa-apa. Habisnya emang aku nungguin dia. Kalo bohong malah ketahuan, malu kan. Mending senyum aja. Tanda kalah.
Kami berjalan, pelan…pelan sekali. Nggak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami selama kurang lebih 50 detik (yeh…pake diitungin lagi…). Lalu aku pun mulai nggak tahan pengen ngomong.
“Ehm…ma kasih ya cake nya. Enak banget loh. Ponakan aku pada suka tuh. Buat sendiri ya?”, kataku mencoba cari alasan buat ngobrol. Coz kayaknya kita dingin banget gitu deh.
“Iya mas. Syukur deh kalo mas sekeluarga suka. Mungkin karena bikinnya pakai cinta kali ya….,” jawabnya. Wow…apa-apaan ini? Kok dia ngomong nya gitu sih?
“OOoo…gitu ya. Beneran kok, enak. Anyway, tadi ada kartu ucapan juga, dibawahnya ada tulisan…yach kamu sendiri yang nulis kan tau apa itu. Maksudnya apa ya?”, to the point tapi deg-deg-an juga nih, takutnya dia marah.
“Ntar ada sesuatu buat mas, bisa mampir ke rumah kan?”
“Boleh…boleh…”, jawabku singkat, masih nggak ngerti apa maksudnya. Aku nanya apa…jawab dia apa. Aneh…
2 menit kemudian, kami sampai di rumahnya. Bertegur sapa dengan bapaknya. Beliau menanyakan kenapa akhir-akhir ini jarang maen ke rumahnya. Yach aku jawab aja sibuk dengan urusan kerjaan. Jawaban standar banget, tapi bisa membungkam orang yang bertanya lebih jauh. ![]()
“Dia” masuk ke dalam rumah, lalu keluar membawa sebuah kotak yang terbungkus kertas kado. Aku yakin itu buat aku. Ya iyalah, bukannya aku GR, dia tadi bilang begitu kok. ![]()
“Nih mas, buat kamu. Mungkin ini bisa menjelaskan semua. Mewakili aku terhadapmu”, wiks…bahasanya membingungkan.
“Aku tahu hari ini, habis tarawih, mas pasti nyari aku. Ternyata feeling aku bener. Makanya udah kusiapkan ini untukmu”, sambungnya.
Aku menerima kotak itu tanpa bisa berkata apa-apa (coba kalo kalian? Mo bilang apa coba? Ma kasih? Ini bukan hadiah!
). Lalu aku pamit pulang dengan alasan sudah malam (alasan klasik lagi deh…).
Di rumah, aku buka kotak itu. Ternyata isinya adalah:
- Sebuah neckstrap HP bertuliskan “E-One-R”.
Neckstrap ini adalah milik HP ku yang pertama, yang aku pinjamkan ke dia waktu kemah besar di sekolahnya. Waktu itu, HP dia nggak ada neckstrap-nya. Kasihan kan kalo kegiatan HP nya jatuh. Benda itu berumur 4 tahun dari sekarang. - Kembang api.
Sisa kembang api yang belum sempat kami hidupkan. Aku yakin, itu adalah sisa dari Ramadhan 3 tahun yang lalu. - Lilin ultah 17 nya.
Lilin ini adalah lilin yang aku pasang di cake ultahnya yang ke-17. Pesta kejutanku bersama pacar dan teman-temannya waktu itu. Memang lilin ini aku yang beli. Itu benda dari 2 tahun lalu. - Satu helai kupon dari GameZone (may be 45 biji lah).
Ini adalah benda dari 29 Ramadhan tahun lalu. Saat itu kita maen ke GameZone di Matahari. Dia emang jago maen basket. Makanya bisa dapet banyak kupon gitu. - Selembar eh…dua lembar surat.
Nah, ini dia yang aku nggak ngerti. Emang apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi? Cewek emang aneh. Karena kesal, aku baca suratnya aja. Mungkin ada clue disitu.
Suratnya panjang banget. Sebagian besar merupakan cerita flashback masa lalu kami, dari tahun ke tahun. Aku kutip bagian yang ada clue berhubungan dengan benda-benda diatas dan juga pertanyaanku:
“….semua ini aku simpan, karena aku menikmati saat-saat bersamamu, Mas. Semua benda ini mengingatkan aku pada kebaikan yang pernah kamu berikan kepadaku….”
-o0o-
“….Rasanya perih, marah waktu kamu disakiti cewek lain. Tapi apa dayaku?…”
-o0o-
“….Cemburu sekali melihatmu berjalan dengan cewek lain. Tapi apa dayaku?…”
-o0o-
“…Aku tahu, Mas. Kamu kecewa sama aku. Dulu adalah dulu mas. Semenjak hari itu, aku nggak pernah berhenti menyesal. Seandainya…seandainya dan seandainya banyak terlintas di pikiranku. Tapi apa itu merubah keadaan?”
-o0o-
“….Aku tahu sekarang mas pacaran sama cewek laen. Aku tahu diri kok. Semua ini hanya untuk mengingatkan, bahwa sebenarnya cintamu masih kusimpan dalam hatiku, seperti janjiku 4 tahun yang lalu, karena tampaknya dari tahun ke tahun kamu mulai melupakanku.”
Nah…ini dia yang bikin aku pusing. Di surat ini secara terang-terangan dia bilang kalo dia masih cinta sama aku. Dengan berkata seperti itu, membuat aku merasa bersalah banget. Merasa aku sudah menyia-nyiakan dia selama 2 tahun ini (terakhir dia punya cowok 2 tahun lalu, habis itu jomblo). Aku baru sadar, ada cewek yang begitu cintanya sama aku, tapi aku nggak peduli sama dia. Apa sih yang aku lakukan selama ini? Apa waktu telah merubah aku?Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?
2 Comments until now
ikutan bingung ah…..he…he….
Unconditional Love…my friend… Unconditional Love
Emang iya sih...tapi akunya yang bingung. Kalo aku tinggalin cewekku yang sekarang buat dia, nggak adil sama cewekku sekarang donk namanya. Tapi kalo aku nggak bersamanya, rasanya aku juga nggak adil sama dia.
Add your Comment!