Aku terhenyak membaca berita ini. Apakah ini wajah dari umat muslim? Aku rasa bukan.

“Siapakah yang terlebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru ke jalan Allahimg dan beramal soleh seraya berkata: Sesungguhnya saya salah seorang muslim.” (Q.S. Fussilat: 33)

Menyeru ke jalan Allahimg adalah wajib bagi setiap muslim. Namun, apakah dengan membakar harta benda adalah amalan soleh?

Pernah penduduk Taif ketika itu menyuruh anak-anak melempari Nabi SAW dengan batu dan benda-benda keras. Dalam keadaan tubuhnya yang berlumuran darah Nabi SAW hanya berdoa:

“Ya Allahimg tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya.”

Meskipun Nabi s.a.w. menyeru manusia dengan penuh kasih sayang, dengan penuh kesabaran dan berlemah lembut, akan tetapi mereka telah membalasnya dengan caci maki, lemparan batu dan berbagai penganiayaan lainnya.

Meskipun demikian nabi SAW tetap menjalankan Dakwah ini dengan penuh kesabaran.

Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan yang baik. Lalu apakah dengan membakar harta benda subyek dakwah bisa disebut mencontoh Nabi SAW? Tentu itu bertentangan dengan apa yang Nabi SAW contohkan, bukan? Lalu mereka umat siapa?

“Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan budipekerti yang mulia.” (H.R.Ahmad)

Budi pekerti yang mulia adalah sikap yang membawa perdamaian dan ketenangan bagi siapapun. Oleh karena itulah Islam disebut sebagai agama pembawa rahmat bagi alam semesta. Tapi apakah dengan membakar harta benda adalah dapat menimbulkan perdamaian?

“maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” Q.S. Thaha: 44

Apakah mereka merasa lebih baik daripada Nabi Musa A.S? Atau apakah subyek dakwahnya lebih buruk dari Fir’aun? Bahkan kepada Fir’aun pun Allahimg memerintahkan Nabi Musa A.S untuk berkata dengan lemah lembut. Nah, apakah dengan membakar harta benda itu sikap lemah lembut?

Pertanyaan ini yang terus mengganjal dalam hatiku. Ada apa dengan umat muslim? Apakah ini adalah jahiliyah modern? Apa mereka tidak bersyukur diberi akal pikiran dan menggunakannya untuk jalan negoisasi dan perdamaian?

Sekali lagi, umat siapa mereka? Aku rasa Rasul SAW nggak pernah mengajarkan pembakaran dan perusakan harta orang lain, sekalipun harta benda orang kafir.

Seharusnya, dakwah menyerukan kepada kebenaran dilandasi dengan keikhlasan mengharap ridho Allahimg. Resah ajaran mereka tersebar cepat? Jangan takut akan kekuatan manusia. Itu semua tidak akan terjadi tanpa ijin Allahimg. Yakinlah Allahimg itu Maha Berkuasa atas segala sesuatu, selama kita sudah berusaha di jalan-Nya. Ingat, di jalan-Nya artinya sesuai dengan perintah-Nya. Lalu siapa manusia yang bisa menjadi contoh dalam hal keta’atan dalam menjalankan perintah-Nya? Ya Rasul kita, Muhammad SAW.

Islam adalah agama yang menyentuh sisi individu dan sosial manusia. Untuk menyerukan kebenaran, seorang muslim dituntut untuk instropeksi diri, membawa kebaikan diri. Karena menyeru kepada kebaikan adalah paling efektif dilakukan dengan keteladanan. Bukan dengan jalan represif/pemaksaan. Disamping itu dalam berdakwah umat muslim juga harus menghormati hukum positif yang berlaku di negara dimana dia tinggal. Ketegasan dalam amar ma’ruf nahi munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara ekstrim seperti perusakan dan pembakaran. Itu kriminal dan melanggar hukum.

Sudah saatnya umat Islam bangkit, menyelesaikan segala sesuatu melalui majelis musyawarah seperti yang dicontohkan oleh junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Bukan dengan jalan prasangka, fitnah dan cemooh seperti yang dicontohkan oleh Iblis laknat dan keparat.

Aku rasa MUI perlu mengeluarkan fatwa lagi: “Merusak hak milik orang lain sekalipun bukan muslim adalah haram hukumnya”

Iwan, muslim yang lagi kesal dengan budaya kekerasan yang marak di kalangan umat muslim.